Di Ambang Batas Yang Tak Bernama

Di Ambang Batas yang Tak Bernama


Siang ini matahari terasa begitu asing, 
Cahayanya terang, 
namun di dalam sini tetap hening. 

Ada duka yang menetap tanpa sempat 
mengetuk pintu, 
Hadir begitu saja, kelabu dan membatu. 



Aku mencari-cari alasan di balik isak yang tertahan, 
Bertanya pada cermin, namun tak ada jawaban. 
Hanya ada sepasang mata yang lelah menatap hari,
Yang kehilangan arah, yang rindu untuk berlari. 

Dunia menuntut jalan, sementara kakiku terpasung, 
Oleh beban-beban bisu yang kian meninggi gunung.
Satu masalah selesai, seribu lainnya menunggu,
Membuat harapanku perlahan memudar dan sore.

Rasanya seperti tenggelam di air yang tenang,
Tak ada ombak, namun napas kian menghilang. 

Berada di titik ini, di mana frustrasi menjadi kawan,
Dan kesedihan adalah satu-satunya pelukan yang tersisa di awan. 

Aku hanya ingin berhenti sejenak, Tanpa harus merasa bersalah karena telah retak.
Sebab hidup terkadang terlalu bising untuk hati yang sepi,
Dan terlalu berat untuk jiwa yang sedang mencari diri sendiri. 

Solo, 8 Januari 2026



Komentar